Badan Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Jakarta sebagai kota dengan tingkat polusi tertinggi ketiga di dunia, setelah Meksiko dan Thailand. Sumber polusi terbesar dihasilkan asap kendaraan bermotor yang mencapai 70 persen.
Kontaminasi gas buang kendaraan bermotor itu tak hanya membuat Jakarta menyandang kota terjorok. Kondisi itu juga berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan bagi warganya. Dan, mereka yang beraktivitas di dekat sumber polusi merupakan kelompok yang paling rentan menerima dampaknya.
Studi yang dipublikasikan Achives of internal Medicine menunjukkan bahwa mereka yang beraktivitas di kawasan berpolusi tinggi memiliki tingkat risiko stroke lebih tinggi dibanding mereka yang tinggal di lingkungan berpolusi rendah.
Paparan partikel yang mencemari udara meningkatkan risiko stroke iskemik.
Studi dilakukan dengan mengobservasi kualitas udara yang mayoritas terkait kontaminasi gas buang dari kendaraan pribadi dan umum di Amerika Serikat. Data terekam kemudian dikaitkan dengan rekam medis 1.705 warga setempat yang sudah berusia sekitar 71 tahun.
Sudah ada banyak studi yang memperlihatkan hubungan antara polusi udara dan risiko stroke. Studi terbaru ini semakin meyakinkan bahwa polusi udara meningkatkan risiko stroke bagi masyarakat urban.
Meski demikian, masih perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikan apakah polusi udara menjadi pemicu langsung stroke. Yang pasti semua orang tetap harus melakukan pencegahan dengan diet seimbang, olahraga, dan rutin memeriksa tekanan darah.
Studi lain memperlihatkan bahwa kualitas udara yang buruk berkaitan dengan penurunan kemampuan kognitif wanita.
Wanita yang tinggal di lingkungan udara buruk selama 7-14 tahun cenderung memiliki kemampuan kognitif setara dengan wanita dua tahun lebih tua yang tinggal di lingkungan bersih.
Asap Kendaraan Tingkatkan Risiko Stroke | Media Online News